Salam

Salam

Senin, 16 Desember 2013

JANAIZ (ke-6)

Menshalatkan Mayyit
a.  Setelah mayat dimandikan dan dikafani, maka agama mensyariatkan untuk menshalatkannya. Hukumny adalah fardlu kifayah, yaitu telah mencukupi bila dilkukan oleh sebagian kaum muslimin, sedang bila tidak ada yang melakukannya berdosalah semuanya.
     Hal ini boleh dilakukan dimana saja tempat-tempat yang suci, baik di rumah atau di masjid (misalnya : karena rumahnya kecil, sdang yang akan menshalatkan amat banyak dan lain-lain sebab yang dibenarkan oleh agama). Jadi bukan dengan kepercayaan, bahwa shalat jenazah di masjid itu merupakan suatu ketetapan agama, yang bila tidak dilaksanakan di masjid diangap kurang sah dlsb.
b.  Menshalatkan mayyit ini dapat dilakukan secara munfarid (sendirian) maupun berjama’ah (dengan seorang imam dan yang lain menjadi ma’mum), kedua-duanya dibenrkan oleh syara’ (hukum agama).
c.  Apabila mayyit itu laki-laki, mayyit tersebut diletakan di hadapan orang-orang yang akan menshalatkannya, dan orang yang mensyalatkannya (imam, bila shalat itu berjama’ah) berdiri menghadap qiblat dan searah kepala mayyit. Sedang jika mayyit itu wanita, mayyit tersebut diletakkan di hadapan orang-orang yang akan menshalatkannya, tetapi orang yang menshalatkannya (imamnya) berdiri searah pinggang (perut) mayyit.
d.  Shalat jenazah ini dilakukan dengan berdiri (setelah takbiratul ihram lalu bersedekap) tanpa memakai ruku’, sujud dan sebagainya.
Adapun pelaksanaannya adalah sebagai berikut :
1.  Takbiratul ihram (takbir untuk mengawali shalat)
2.  Membaca Al-Fatihah
3.  Bertakbir yang kedua kalinya
4.  Membaca shalawat atas Nabi
5.  Bertakbir yang ketiga kalinya
6.  Mendoakan mayyit
7.  Bertakbir yang keempat kalinya
8.  Salam
Untuk lebih mudahnya, maka di sini kami sajikan satu contoh shalat jenazah.
Contoh shalat jenazah (dengan 4 kali takbir)
1. Takbir pertama : Takbiratul ihram,
    Allah Maha Besar        اَللهُ اَكْبَرُ
Membaca ta’awudz          اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ
    Aku berlindung kepada Allah dari godaan syaithan yang terkutuk.
Membaca Al-Fatihah :
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ. اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبّ اْلعَالَمِيْنَ. اَلرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ. مَالِكِ يَوْمِ الدّيْنِ. اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَ اِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ. اِهْدِنَا الصّرَاطَ اْلمُسْتَقِيْمَ. صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ، غَيْرِ اْلمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَ لاَ الضَّالّيْنَ. آمِيْنَ
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Yang menguasai hari Pembalasan. Hanya kepada Engkaulah kami beribadah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertologan. Tunjukkanlah kami ke jalan yang lurus. (Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. Ya Allah, kabulkanlah permohonan kami. [QS. Al-Fatihah : 1-7]
2. Takbir ke dua.
    Allah Maha Besar        اَللهُ اَكْبَرُ
Membaca shalawat :
اَللّهُمَّ صَلّ عَلى مُحَمَّدٍ وَ عَلى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلى آلِ اِبْرَاهِيْمَ. وَ بَارِكْ عَلى مُحَمَّدٍ وَ عَلى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلى آلِ اِبْرَاهِيْمَ، فِى اْلعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. مسلم
Ya Allah, berilah shalawat atas Nabi Muhammad dan atas keluarga Nabi Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberi shalawat atas keluarga Nabi Ibrahim. Dan berilah berkah atas Nabi Muhammad dan atas keluarga Nabi Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberi berkah atas keluarga Nabi Ibrahim. Dalam semesta alam ini, sesungguhnya Engkau adalah Tuhan Yang Maha Terpuji lagi Maha Mulia. [HR. Muslim]
3. Takbir ke tiga.
    Allah Maha Besar        اَللهُ اَكْبَرُ
Membaca doa untuk si mayyit :
اَللّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَ ارْحَمْهُ وَ اعْفُ عَنْهُ وَ عَافِهِ وَ اَكْرِمْ نُزُلَهُ وَ وَسّعْ مَدْخَلَهُ وَ اغْسِلْهُ بِمَاءٍ وَ ثَلْجٍ وَ بَرَدٍ وَ نَقّهِ مِنَ اْلخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ اْلاَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ. وَ اَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ وَ اَهْلاً خَيْرًا مِنْ اَهْلِهِ وَ زَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ وَ قِهِ فِتْنَةَ اْلقَبْرِ وَ عَذَابَ النَّارِ. مسلم عن عوف بن مالك 2: 663
Ya Allah, ampunilah dia, kasihanilah dia, maafkanlah dia, berilah ‘afiat padanya dan muliakanlah tempat tinggalnya, luaskanlah tempat masuknya, cucilah dia dengan air, salju dan air embun. Bersihkanlah dia dari dosa-dosa sebagaimana kain putih dibersihkan dari kotoran. Gantilah rumahnya dengan rumah yang lebih baik daripada rumahnya (di dunia), gantilah keluarganya dengan keluarga yang lebih baik dari pada keluarganya, gantilah jodohnya dengan jodoh yang lebih baik daripada jodohnya 9di dunia). Dan peliharalah dia dari fitnah qubur dan siksa neraka. [HR. Muslim juz 2, hal. 663]
4. Takbir ke empat.
    Allah Maha Besar        اَللهُ اَكْبَرُ
Membaca salam : (menoleh ke kanan, ke kiri)
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللهِ
Semoga keselamatan dicurahkan atas kamu sekalian,
begitu pula rahmat Allah
Demikianlah salah satu contoh shalat jenazah.
Keterangan :
Adapun tentang takbir dalam shalat jenazah itu disertai dengan mengangkat tangan atau tidak, di sini ada dua pendapat :
1.  Pendapat pertama, bahwa mengangkat tqangan itu hanya pada Takbiratul Ihram saja, sedang takbir-takbir selanjutnya tidak mengangkat tangan. Mereka beralasan karena tidak ada hadits yang sah yang menerangkan bahwa Nabi SAW mengangkat tangan pada semua takbir dalam shalat jenazah.
2.  Pendapat kedua, bahwa mengangkat tangan itu ada pada semua takbir shalat jenazah. Mereka beralasan dengan hadits shahih yang diriwayatkan oleh Sa’id bin Manshur, sebagaimana kata Al-Hafidh Ibnul Hajar :
وَ قَدْ صَحَّ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ اَنَّهُ كَانَ يَرْفَعُ يَدَيْهِ فِى تَكْبِيْرَاتِ اْلجَنَازَةِ. سعيد بن منصور، فى نيل الاوطار 4: 71
Dan telah sah dari Ibnu ‘Abbas, bahwasanya beliau mengangkat kedua tangannya pada takbir-takbir shalat jenazah. [HR. Sa’id bin Manshur, dalam Nailul Authar juz 4, hal. 71]
Contoh shalat jenazah yang kami ketengahkan di atas adalah salah satu cara shalat jenazah dengan empat takbir. Dan masih ada lagi beberapa kaifiyat (cara) shalat jenazah yang lain, diantaranya :
a. Dengan lima kali takbir
b. Dengan enam kali takbir
c. Dengan tujuh kali takbir
d. Dengan membaca Al-Fatihah dan surat dengan nyaring.
Kesemuanya itu berdasar atas dalil yang kuat.
Dan begitu pula ada bermacam-macam lafadh doa untuk mayyit, yang diantaranya akan kami sebutkan di belakang nanti.
16. Dalil tentang takbir shalat jenazah
عَنْ جَابِرٍ اَنَّ النَّبِيَّ ص صَلَّى عَلَى اَصْحَمَةَ النَّجَاشِيّ فَكَبَّرَ عَلَيْهِ اَرْبَعًا. احمد و البخارى و مسلم
Dari Jabir, bahwa Nabi SAW pernah menshalati Ashahamah raja Najasyi, kemduian ia takbir tempat kali. [HR. Ahmad, Bukhari dan Muslim]
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ اَنَّ النَّبِيَّ ص نَعَى النَّجَاشِيَّ فِى اْليَوْمِ الَّذِى مَاتَ فِيْهِ، وَ خَرَجَ بِهِمْ اِلَى اْلمُصَلَّى، فَصَفَّ بِهِمْ وَ كَبَّرَ عَلَيْهِ اَرْبَعَ تَكْبِيْرَاتٍ. الجماعة
Dari Abu Hurairah bahwa Nabi SAW mengkhabarkan kematian raja Najasyi pada hari meninggalnya, lalu beliau keluar ke mushalla bersama orang banyak, kemudian mengatur barisan mereka dan takbir 4 kali. [HR. Jama’ah]
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: اِنْتَهَى رَسُوْلُ اللهِ ص اِلَى قَبْرٍ رَطْبٍ، فَصَلَّى عَلَيْهِ، وَ صَفُّوْا خَلْفَهُ، وَ كَبَّرَ اَرْبَعًا. احمد و البخارى و مسلم
Dari Ibnu ‘Abbas ia berkata, “Sampailah Rasulullah SAW ke sebuah quburan yang masih basah (baru) lalu beliau menshalatkannya, sedang para shahabat berbaris di belakangnya, dan bertakbir empat kali”. [HR. Jama’ah kecuali Bukhari]
عَنْ حُذَيْفَةَ اَنَّهُ صَلَّى عَلَى جَنَازَةٍ، فَكَبَّرَ خَمْسًا، ثُمَّ الْتَفَتَ فَقَالَ: مَا نَسِيْتُ وَ لاَ وَهِمْتُ وَ لكِنْ كَبَّرْتُ كَمَا كَبَّرَ النَّبِيُّ ص صَلَّى عَلَى جَنَازَةٍ، فَكَبَّرَ خَمْسًا. احمد
Dari Khudzaifah bahwa ia pernah menshalati jenazah, lalu ia takbir lima kali. (Setelah selesai shalat) kemudian ia menoleh, lalu berkata, “Bukannya aku lupa atau aku ragu-ragu, tetapi aku takbir sebagaimana Nabi SAW takbir, yaitu Nabi SAW pernah menshalatkan jenazah, kemudian beliau takbir lima kali”. [HR. Ahmad]
عَنْ عَلِيّ اَنَّهُ كَبَّرَ عَلَى سَهْلِ بْنِ حُنَيْفٍ سِتًّا، وَ قَالَ: اَنَّهُ شَهِدَ بَدْرًا. البخارى
Dari ‘Ali bahwa ia takbir enam kali atas (jenazahnya) Sahal bin Hanif, dan ia berkata, “Sesungguhnya Sahal ikut dalam perang Badar”. [HR. Bukhari]
عَنِ اْلحَكَمِ بْنِ عُتَيْبَةَ اَنَّهُ قَالَ: كَانُوْا يُكَبّرُوْنَ عَلَى اَهْلِ بَدْرٍ خَمْسًا، وَ سِتًّا وَ سَبْعًا. سعيد فى سننه
Dari Al-Hakam bin ‘Utaibah, bahwa ia berkata, “Shahabat-shahabat takbir utuk qurban-qurban perng Badar 5 kali, 6 kali, dan 7 kali”. [HR. Sa’id di dalam sunannya]
17. Bacaan dan Shalawat dalam shalat jenazah
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ اَنَّهُ صَلَّى عَلَى جَنَازَةٍ فَقَرَأَ بِفَاتِحَةِ اْلكِتَابِ وَ قَالَ: لِتَعْلَمُوْا اَنَّهُ مِنَ السُّنَّةِ. البخارى و ابو داود و الترمذى و صححه
Dari Ibnu abbas bahwa ia pernah menshalati jenazah, lalu ia membaca surat Al-Fatihah, dan ia berkata, “Ketahuilah bahwa yang demikian itu adalah termasuk sunnah Nabi SAW”. [HR. Bukhari, Abu Dawud, dan Tirmidzi dan ia mengesahkannya]
و النسائى و قال فيه: فَقَرَأَ بِفَاتِحَةِ اْلكِتَابِ، وَ سُوْرَةٍ، وَ جَهَرَ. فَلَمَّا فَرَغَ قَالَ: سُنَّةٌ وَ حَقُّ.
Dari Nasai, ia berkada dalam riwayatnya : Kemudian Ibnu ’Abbas membaca Al-Fatihah dan satu surat, serta mengeraskan bacaannya, kemudian setelah selesai ia berkata, “Ini adalah sunnah Nabi SAW dan benar”.
عَنْ اَبِى اُمَامَةَ بْنِ سَهْلٍ اَنَّهُ اَخْبَرَهُ رَجُلٌ مِنْ اَصْحَابِ النَّبِيّ ص اَنَّ السُّنَّةَ فِى الصَّلاَةِ عَلَى اْلجَنَازَةِ اَنْ يُكَبّرُ اْلاِمَامُ، ثُمَّ يَقْرَأُ بِفَاتِحَةِ اْلكِتَابِ، بَعْدَ التَّكْبِيْرَةِ اْلاُوْلَى، سِرًّا فِى نَفْسِهِ، ثُمَّ يُصَلّى عَلَى النَّبِيّ ص، وَ يُخْلِصُ الدُّعَاءَ لِلْجَنَازَةِ فِى التَّكْبِيْرَاتِ، وَ لاَ يَقْرَأُ فِى شَيْءٍ مِنْهُنَّ. ثُمَّ يُسَلّمُ سِرًّا فِى نَفْسِهِ. الشافعى فى مسنده
Dari Abu Umamah bin Sahal bahwa ia diberitahu oleh seorang laki-laki dari shahabat Nabi SAW, bahwa menurut sunnah Nabi SAW tentang shalat jenazah, yaitu mula-mula imam takbir, kemudian membaca Fatihah dengan perlahan (sesudah takbir pertama), lalu membaca shalawat atas Nabi SAW, kemudian berdoa dengan ikhlash untuk jenazah dalam takbir-takbir, dan tidak membaca (ayat) sedikitpun diantara takbir-takbir itu, kemudian salam dengan perlahan. [HR. Asy-Syafi’i dalam musnadnya]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar