Salam

Salam

Rabu, 18 Desember 2013

PUASA


Puasa, yang di dalam bahasa Al-Qur'an  Ash-Shaum/Ash-Shiyam adalah salah satu dari beberapa kewajiban yang harus dilaksanakan  oleh orang-orang beriman. Firman Allah :
 
ياَيُّهَا الَّذِيْنَ امَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ. البقرة:183
 
Hai  orang-orang  yang  beriman, diwajibkan atas kamu  berpuasa  seba-gaimana diwajibkan  atas orang-orang sebelum kamu agar kamu  bertaqwa. [Al-Baqarah  : 183]
1. Pengertian  Ash-Shiyam  (Puasa)
Ash-Shiyam atau Ash-shaum menurut lughah/bahasa,  artinya : "Menahan diri dari melakukan sesuatu". Seperti firman  Allah :
 
اِنّىْ نَذَرْتُ لِلرَّحْمنِ صَوْمًا فَلَنْ اُكَلّمَ اْليَوْمَ اِنْسِيًّا. مريم:26
 
Sesungguhnya aku telah bernadzar akan  berpuasa  karena Tuhan  Yang  Maha Pemurah, maka aku tidak  akan  berbicara  dengan seseorang  manusiapun pada hari ini. [Maryam : 26]
Menurut Syara', ialah :
اَْلاِمْسَاكُ عَنِ اْلأَكْلِ وَالشُّرْبِ وَغَشَيَانِ النّسَاءِ مِنَ اْلفَجْرِ اِلىَ اْلمَغْرِبِ اِحْتِسَابًا للهِ وَاِعْدَادًا لِلنَّفْسِ وَتَهْيِئَةً لَـهَا لِتَقْوَى اللهِ بِاْلمُرَاقَبَةِ وَتَرْبِيَةِ اْلاِرَادَةِ.
Menahan diri dari makan, minum dan  bersetubuh,  mulai fajar hingga Maghrib, karena mengharap ridlo  Allah dan menyiapkan diri untuk bertaqwa kepada-Nya dengan jalan  mendekatkan  diri kepada Allah dan mendidik kehendak.
 
اَْلاِمْسَاكُ عَنِ اْلأَكْلِ وَالشُّرْبِ وَاْلجِمَاعِ وَغَيْرِهَا ِممَّاوَرَدَبِهِ فِى النَّهَارِعَلَى اْلوَجْهِ اْلمَشْرُوْعِ. وَيَتْبَعُ ذلِكَ اْلاِمْسَاكُ عَنِ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَغَيْرِهِمَا مِنَ اْلكَلاَمِ اْلمُحَرَّمِ وَاْلمَكْرُوْهِ فِى وَقْتٍ مَخْصُوْصٍ بِشَرَائِطَ مَخْصُوْصَةٍ.
 
Menahan diri dari makan, minum, jima' dan lain-lain yang telah  diperintahkan kepada kita menahan diri padanya, sepanjang hari  menurut cara yang disyariatkan. Disertai pula menahan diri dari perkataan sia-sia,  perkataan yang diharamkan dan dimakruhkan pada waktu yang telah ditentukan serta menurut syarat-syarat yang telah  ditetapkan.
Tegasnya: "PUASA", ialah: Menahan diri untuk tidak makan, minum termasuk merokok dan bersetubuh dari mulai Fajar hingga terbenam matahari pada bulan Ramadlan karena mencari ridlo Allah.
2.  Hukum Ash-Shiyam (Puasa)
Wajib 'Ain, artinya setiap orang Islam yang telah baligh (dewasa) dan sehat akalnya serta tidak ada sebab-sebab yang dibenarkan agama untuk tidak berpuasa, maka mereka itu wajib melakukannya dan berdosa bagi yang  meninggalkannya  dengan sengaja. Firman Allah :
 
ياَيُّهَا الَّذِيْنَ امَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ. البقرة:183
 
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa seba-gaimana diwajibkan atas  orang-orang sebelum kamu agar kamu  bertaqwa. [Al-Baqarah: 183]
 
Dan hadits-hadits Rasulullah SAW. :
 
بُنِيَ اْلاِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَ اَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ. وَ  اِقَامِ الصَّلاَةِ وَاِيْتَاءِ الزَّكَاةِ وَصِيَامِ رَمَضَانَ وَ حَجّ اْلبَيْتِ. البخارى و مسـلم.
 
Islam didirikan atas lima sendi, yaitu 1) Mengakui bahwa tak ada  Tuhan melainkan Allah dan bahwasanya Muhammad pesuruh Allah, 2) Mendiri-kan  Shalat,  3) Menunaikan zakat, 4) Berpuasa Ramadlan  dan  5) Ber-hajji. [HR. Bukhari dan Muslim]
 
اَنَّ رَجُلاً سَأَلَ النَّبِيَّ ص فَقَالَ يَا رَسُوْلَ اللهِ  اَخْبِرْنِى عَمَّا فَرَضَ اللهُ عَلَيَّ مِنَ الصّيَامِ ! قَالَ: شَهْرُ رَمَضَانَ. قَالَ: هَلْ عَلَيَّ غَيْرُهُ ؟ قَالَ: لاَ. اِلاَّ اَنْ تَطَوَّعَ. متفق عليه عن طلحة بن عبيد الله.
 
Sesungguhnya seorang laki-laki bertanya kepada Nabi SAW, "Ya  Rasulullah, saya mohon diterangkan tentang puasa yang diwajibkan oleh Allah kepada saya". Nabi SAW menjawab, "Puasa di bulan Ramadlan". Orang itu  bertanya  pula,  "Adakah  puasa yang lain yang  diwajibkan  atas  diri saya ?" Jawab Nabi SAW, "Tidak, kecuali bila engkau hendak mengerjakan Tathawwu'  (puasa  sunnah). [Muttafaq 'Alaih dari  Thalhah  bin 'Ubaidillah]
3. Yang Wajib Berpuasa
Ketentuan-ketentuan orang yang berkewajiban menjalankan puasa di bulan Ramadlan :
a)  Orang Islam, tidak diwajibkan selain orang Islam.
b)  'Aqil baligh  (dewasa), bukan anak-anak.
c)  Sehat.
d)  Muqim (berada di daerah  tempat  tinggalnya/daerah  iqomahnya), bukan sebagai musafir.
e)  Kuat, yakni tidak memaksakan diri karena sangat berat dan payah  bila  berpuasa.
f)  Khusus bagi wanita pada waktu suci, artinya tidak sedang haidl atau nifas.
4.  Yang  Membatalkan Puasa
Sepanjang tuntunan Allah dan Rasul-Nya hal-hal yang  membatalkan puasa, adalah sebagai berikut :
 
Firman Allah SWT. dalam  surat  Al-Baqarah ayat  187,
 
اُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصّيَامِ الرَّفَثُ اِلى نِسَاءِكُمْ. هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وُاَنْتُمْ لِبَاسٌ لَّـهُنَّ، عَلِمَ اللهُ اَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُوْنَ اَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ، فَلْئنَ بَاشِرُوْهُنَّ وَابْتَغُوْا مَا كَتَبَ اللهُ لَكُمْ، وَكُلُوْا وَاشْرَبُوْا حَتّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ اْلخَيْطُ اْلاَبْيَضُ مِنَ اْلخَيْطِ اْلاَسْوَدِ مِن َاْلفَجْرِ، ثُمَّ اَتِـمُّوا الصّيَامَ اِلىَ الَّيْلِ ... البقرة:187.
 
Dihalalkan bagi kamu pada  malam  hari  puasa bercampur  dengan isteri-isteri kamu; mereka itu pakaian  bagimu, dan kamupun pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi  keringanan kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka  dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang  hitam,  yaitu Fajar.  Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam ..... .  [Al-Baqarah: 187]
Dari ayat tersebut dapat diambil pengertian bahwa yang  membatalkan  puasa itu ialah:
a)  Bersetubuh suami-isteri dengan sengaja dan dilakukan pada saat puasa (dari mulai masuk waktu Shubuh hingga masuk waktu Maghrib), padahal mereka termasuk orang yang berkewajiban puasa.
Dan yang dimaksud dengan "bersetubuh", ialah masuknya kemaluan laki-laki/suami pada kemaluan wanita/istri. Jadi baik mengeluarkan mani maupun tidak, hukumnya tetap sama. Karena tidak adanya ayat-ayat lain maupun hadits-hadits yang membatasi, bahwa yang dimaksud "bersetubuh" adalah yang mengeluarkan mani, maka ayat itu tetap berlaku sesuai  dengan keumuman  lafadhnya.
b.  Makan dengan sengaja, baik makanan yang  mengenyangkan  atau tidak.
c.  Minum, baik yang menghilangkan  haus atau tidak, termasuk merokok.
5.  Yang Boleh Tidak Berpuasa dan Wajib Mengganti di hari-hari yang Lain :
a. Orang yang sakit, yang apabila ia tetap berpuasa akan menambah berat atau akan memperlambat kesembuhan sakitnya, sedang sakitnya itu dapat  diharapkan kesembuhannya (bukan  sakit yang menahun atau sakit yang kronis dan terus-menerus sehingga sulit diharapkan kesembuhannya).
b.  Musafir, ialah : Orang yang sedang bepergian keluar dari daerah iqomahnya, baik dengan perjalanan yang  berat dan sukar maupun dengan ringan dan mudah; kesemuanya  diperbolehkan untuk tidak berpuasa  dan  berkewajiban mengganti di hari yang lain. Berdasarkan firman Allah :
 
فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيْضًا اَوْ عَلى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ اَيَّامٍ اُخَرَ. البقرة:184.
 
Dan barangsiapa diantara kamu yang sakit atau dalam bepergian (musafir) ~maka bolehlah ia berbuka~ dan mengganti di hari-hari  yang lain (sebanyak yang ditinggalkannya). [QS. Al-Baqarah : 184].
 
وَمَنْ كَانَ مَرِيْضًا اَوْ عَلى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ اَيَّامٍ اُخَرَ. البقرة:185.
 
Dan barangsiapa yang sakit atau dalam bepergian (musafir) ~maka bolehlah ia berbuka~ dan mengganti di  hari-hari yang lain (sebanyak yang ditinggalkannya). [QS. Al-Baqarah : 185].
6. Batas Waktu Mengganti
Tidak ada ketentuan dalam agama tentang  batas waktu mengganti puasa yang ditinggalkan. Dapat dilaksanakan pada bulan-bulan sesudah selesai Ramadlan tahun itu atau bulan-bulan sesudah Ramadlan tahun  berikutnya.
Tegasnya selama ia masih hidup, kapanpun boleh, tanpa  menambah  fidyah atau melipat gandakan puasanya (misalnya hutang satu hari diganti dua hari dan sebagainya). Hanya sebaiknya segera diganti.
7. Yang Boleh  Tidak  Berpuasa  dan Hanya Mengganti  Fidyah  Tanpa  Harus Mengganti Puasa di Hari Yang lain.
Yaitu : Orang-orang yang bila dipaksakan  untuk  berpuasa  masih dapat, tetapi sungguh amat payah sekali dalam melaksanakannya. Perhatikan Firman Allah  :
 
وَعَلَى الَّذِيْنَ يُطِيْقُوْنَه فِدْيَةٌ ... البقرة:184
 
Dan terhadap orang-orang yang bisa berpuasa tetapi dengan  susah payah (boleh tidak berpuasa), wajib membayar fidyah. [Al-Baqarah : 184]
Ayat tersebut umum, maka siapa saja yang walaupun mampu berpuasa tetapi dengan amat payah  (rekoso) dalam  menjalankannya, maka termasuk yang dimaksud oleh ayat di atas. Yang termasuk kategori amat payah, antara  lain :
a)  Wanita yang sedang hamil yang bila berpuasa dikhawatirkan akan  menimbulkan gangguan pada dirinya dan/atau anak yang dikandungnya.
b)  Wanita yang sedang menyusui, baik anaknya sendiri  maupun anak orang lain yang diserahkan kepadanya untuk disusui, yang bila dipaksakan untuk berpuasa akan sangat berat bagi dirinya dan/atau bagi anak yang sedang disusuinya itu. Rasulullah SAW bersabda :
 
اِنَّ اللهَ وَضَعَ عَنِ اْلمُسَافِرِ الصَّوْمَ وَشَطْرَ الصَّلاَةِ وَعَنِ اْلحُبْلَى وَاْلمُرْضِعِ الصَّوْمَ. احمد عن انس بن مالك الكعبى.
 
Bahwasanya Allah SWT. telah membolehkan bagi musafir meninggalkan puasa dan mengqoshor shalat, dan Allah telah membolehkan perempuan hamil dan yang sedang menyusui anak meninggalkan puasa.
[HR. Ahmad dari Anas bin Malik Al Ka'bi].
Dan riwayat dari Ibnu Abbas RA. tentang istrinya yang sedang hamil, katanya :
 
اَنْتِ ِبمَنْزِلَةِ الَّذِى لاَيُطِيْقُهُ فَعَلَيْكِ اْلفِدَاءُ وَلاَ قَضَاءَ عَلَيْكِ. البزار وصححه الدارقطنى.
 
Engkau sekedudukan dengan orang yang amat payah  untuk  berpuasa. Maka wajib atasmu fidyah  dan  tidak  ada qodlo' bagimu. [Diriwayatkan oleh Al-Bazzar dan dishahihkan oleh Ad-Daruquthni]
Serta riwayat dari Ibnu 'Umar ketika beliau ditanya oleh seorang wanita Quraisy yang sedang hamil, tentang hal puasanya maka jawab beliau  :
 
اَفْطِرِى وَاَطْعِمِى كُلَّ يَوْمٍ مِسْكِيْنًا وَلاَ تَقْضِى. ابن هزم.
 
Berbukalah kamu dan berilah makan tiap hari seorang miskin; tidak usah kamu  mengqodlo'nya. [HR. Ibnu Hazm].
 
c)  Orang yang lanjut usia/orang tua yang apabila berpuasa  akan sangat memayahkannya. Berdasar keumuman ayat (Surat Al-Baqarah ayat  184)  dan riwayat dari Ibnu Abbas sebagai berikut  :
 
رُخِّصَ  لِلشَّيْخِ اْلكَبِيْرِ اَنْ يُفْطِرَ وَيُطْعِمَ وَلاَ قَضَاءَ عَلَيْهِ. الدارقطنى والحاكم.
 
Orang  yang sangat tua, dibenarkan untuk berbuka dan  wajib memberikan (fidyah) serta tidak ada qodlo' atasnya. [Diriwayatkan oleh Ad-Daruquthni dan Al-Hakim].
 
d)  Orang yang pekerjaannya sangat berat, yang bila tetap berpuasa  walaupun ia kuat akan sangat berat dan memayahkannya. Misalnya : Pengemudi becak, pekerja tambang, karyawan-karyawan pengangkat barang di stasiun, terminal, pelabuhan dan sebagainya.
e)  Orang yang sakit menahun yang -- menurut ahli kesehatan -- sukar  diharapkan sembuhnya, atau walaupun sembuh  tetapi  memakan waktu  yang  lama  sekali.
f)  Siapa saja yang karena kondisi badannya atau sebab-sebab lain akan amat berat sekali bila berpuasa, walaupun bila dipaksa akan kuat juga.
Untuk nomor d), e) dan f), ini dasarnya adalah keumuman lafadh dari ayat 184 surat  Al-Baqarah diatas.
Semua yang tersebut diatas, boleh tidak berpuasa dan wajib membayar fidyah tanpa harus mengganti puasa di hari yang lain.
 
8.  Yang Wajib Untuk Tidak Berpuasa dan Wajib Mengganti  Dengan Puasa di Hari Yang lain.
 
Yaitu khusus bagi wanita yang sedang haidl atau nifas. Berdasar riwayat  :
 
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: كُنَّا نَحِيْضُ عَلَى عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ ص فَنُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّوْمِ وَلاَ نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلاَةِ. الجماعة عن المعاذة.
 
Dari 'Aisyah, bahwa ia berkata, "Adalah kami haidl dimasa Rasulullah SAW maka kami diperintahkan supaya mengqodlo' (mengganti) puasa dan kami tidak diperintahkan  mengqodlo shalat". [HR. Al-Jama'ah dari Al-Mu'adzah]
 
Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Abu Sa'id, bahwa Rasulullah SAW bersabda  :
 
اَلَيْسَ اِحْدَاكُنَّ اِذَا حَاضَتْ لَـمْ تُصَلِّ وَلَـمْ تَصُمْ ؟ فَذلِكَ مِنْ نُقْصَانِ دِيْنِهَا. البخارى
 
Bukankah salah seorang di antara kamu (yakni kaum wanita) apabila haidl, tidak shalat dan tidak berpuasa ? Itulah dari kekurangan agamanya.
[HR. Bukhari]
1. Pengertian  Sahur
Sahur, ialah makanan yang dimakan pada waktu sahar.
Sahar menurut bahasa ialah "Nama bagi akhir suku malam dan  permulaan  suku  siang".
Lawannya ialah : Ashil, akhir suku siang.
Menurut Az-Zamakhsyari; dinamai waktu Sahar dengan Sahar karena ia adalah waktu berlalunya malam dan datangnya siang. Dengan demikian, jelaslah bahwa Sahar bukanlah satu atau dua jam sebelum terbit fajar, namun yang dimaksud adalah nama waktu pergantian siang dan malam.
Jadi apabila kita makan pada jam 24.00 (jam 12 malam) atau sedikit setelah itu tidaklah dapat dinamakan "Bersahur (mengerjakan makan Sahur)".
Adapun yang dinamakan makan Sahur sebagaimana dilakukan Rasulullah SAW. pada riwayat di bawah ini :
 
عَنْ اَنَسٍ عَنْ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ قَالَ: تَسَحَّرْنَا مَعَ رَسُوْلِ اللهِ ص : ثُمَّ قُمْنَا اِلىَ الصَّلاَةِ. قُلْتُ: كَمْ كَانَ قَدْ رُمَا بَيْنَهُمَا ؟ قَالَ: قَدْرَخَمْسِيْنَ ايَةً. احمد والبخارى و مسـلم.
 
Dari Anas dari Zaid bin Tsabit, ia berkata, "Kami pernah bersahur bersama Rasulullah SAW. kemudian kami mengerjakan shalat (Shubuh)". Aku (Anas) bertanya kepada Zaid. "Berapa tempo antara keduanya ?".  Zaid  menjawab : "Sekadar 50 ayat Al-Qur'an". [HR. Ahmad, Bukhari dan Muslim].
 
2.  Hikmah Sahur
 
Diriwayatkan oleh Ahmad dari Abu Sa'id  bahwa Nabi SAW. bersabda :
 
اَلسَّحُوْرُ بَرَكَةٌ فَلاَ تَدَعُوْهُ وَلَوْ اَنْ يَجْرَعَ اَحَدُكُمْ جُرْعَةً مِنْ مَاءٍ فَاِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى اْلـمُسَحِّرِيْنَ. احمد.
 
Sahur itu suatu berkah. Maka janganlah kamu  meninggalkannya,  walaupun hanya dengan meneguk seteguk air, karena sesungguhnya Allah dan Malaikat-Nya bersholawat atas orang yang bersahur. [HR. Ahmad]
Diriwayatkan oleh Muslim dari 'Amr bin 'Ash bahwa Rasulullah SAW. bersabda:
 
فَصْلُ مَابَيْنَ صِيَامِنَا وَصِيَامِ اَهْلِ اْلكِتَابِ أَكْلَةُ السَّحَرِ. مسـلم.
 
Yang membedakan antara puasa kita dengan  puasa ahli kitab ialah makan sahur. [HR. Muslim]
.
3.  Keraguan  Tentang Waktu Sahur
 
Bila seseorang ragu apakah telah habis waktu ataukah belum, maka ia diperbolehkan makan dan minum hingga nyata-nyata baginya bahwa waktu sahur  telah habis dan masuk waktu shubuh. Firman Allah :
 
وَكُلُوْا وَاشْرَبُوْا حَتّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ اْلخَيْطُ اْلأَبْيَضُ مِنَ اْلخَيْطِ اْلأَسْوَدِ مِنَ اْلفَجْرِ. البقرة:187
 
Dan makanlah, minumlah, sehingga nyata kepadamu benang putih dari pada benang  hitam yaitu Fajar. [Al Baqarah : 187]
Dari ayat di atas jelaslah bahwa Allah memperkenankan makan dan minum,  sehingga  nyata  benar akan terbitnya  Fajar.
 
4.  Adab Berbuka
 
Diriwayatkan oleh Ahmad, Bukhari, Muslim dan Abu  Dawud dari  Sahl  bin  'Adi, bahwa Rasulullah  SAW.  bersabda  :
 
لاَيَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوااْلفِطْرَ. احمد والبخارى و مسـلم و ابوداود.
 
"Senantiasalah manusia dalam kebajikan selama mereka segera berbuka".
 
Diriwayatkan oleh At Tirmidzi dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda :
 
يَقُوْلُ اللهُ عَزَّ وَ جَلَّ: اِنَّ اَحَبَّ عِبَادِى اِلَيَّ اَعْجَلُـهُمْ فِطْرًا. الترمذى
 
Berfirman Allah Azza wa jalla: --artinya--  "Yang paling Ku sayangi dari hamba-hamba-Ku, ialah yang  paling segera berbuka".  [HR. Tirmidzi dari Abu Hurairah].
 
Diriwayatkan  oleh Ibnu Abdil Barr dari Anas bin Malik, katanya:
 
مَا رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ ص قَطُّ صَلَّى صَلاَةَ اْلمَغْرِبِ حَتَّى يُفْطِرَ وَلَوْ عَلَى شُرْبَةِ مَاءٍ. ابن عبد البر عن انس بن مالك.
 
Tidak pernah aku melihat walau sekalipun  Rasulullah  SAW shalat  Maghrib lebih dahulu sebelum berbuka, walaupun hanya dengan seteguk air.
 
Diriwayatkan oleh Abu Dawud, Al-Hakim dan Tirmidzi dari Anas, katanya :
 
كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ص يُفْطِرُ عَلَى رَطَبَاتٍ قَبْلَ اَنْ يُصَلّىَ فَاِنْ لَـمْ تَكُنْ فَعَلَىتَمَرَاتٍ فَاِنْ لَـمْ تَكُنْ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ. ابوداود والحاكم والترمذى.
 
Adalah Rasulullah SAW berbuka dengan korma basah sebelum shalat (Maghrib), jika tidak ada itu, maka beliau berbuka  dengan korma kering dan jika tak ada korma kering beliau menyendok beberapa sendok air.
 
كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ص يُحِبُّ اَنْ يُفْطِرَ عَلَى ثَلاَثِ تَـمَرَاتٍ اَوْ شَىْءٍ لَـمْ تُصِبْهُ النَّارُ. ابو يعلى عن انس.
 
Adalah Rasulullah SAW suka berbuka puasa dengan tiga biji korma atau sesuatu yang tidak  dimasak dengan api. [HR. Abu Ya'la dari Anas]
 
Rasulullah SAW bersabda :
 
اِذَا اَفْطَرَ اَحَدُكُمْ فَلْيُفْطِرْ عَلَى تَـمْرٍ، فَاِنْ لَـمْ يَجِدْ فَلْيُفْطِرْ عَلَى مَاءٍ فَاِنَّهُ طَهُوْرٌ. ابو داود والترمذى عن سليمان بن عامر.
 
Apabila berbuka seseorang kamu, maka hendaklah ia berbuka dengan korma. Jika ia tidak  memperoleh korma, hendaklah ia berbuka dengan air, karena air itu bersih dan membersihkan. [HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi dari Sulaiman bin 'Amir]
Kesimpulan :
Hadits-hadits di atas menerangkan kepada kita, bahwa apabila kita berbuka puasa maka disunatkan untuk :
1.  Menyegerakan  berbuka.
2.  Sebelum shalat Maghrib kita berbuka dahulu walaupun dengan seteguk air.
3.  Berbuka dengan tiga biji korma, bila tidak ada, dengan sesuatu makanan yang manis dan tidak dimasak dengan api. Seperti : pisang, kates, nanas dan  lain-lain.
4.  Bila tidak ada buah-buahan maka disunatkan kita untuk berbuka  dengan  air.
5. Dan dikala berbuka dituntunkan untuk membaca do'a seperti di bawah ini :
 
اَللّهُمّ لَكَ صُمْنَا وَعَلَى رِزْقِكَ اَفْطَرْنَا فَتَقَبَّلْ مِنَّا اِنَّكَ اَنْتَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ. الدارقطنى عن ابن عباس.
 
Wahai Tuhan  kami, untuk Engkau kami berpuasa dan dengan rezqi Engkau kami berbuka. Maka terimalah dari kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. [HR. Ad-Daruquthni dari Ibnu Abbas].
 
Atau  dengan lafadh :
ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ اْلعُرُوْقُ وَثَبَتَ اْلاَجْرُ اِنْ شَاءَ اللهُ.ابو داود عن ابن عمر.
 
Haus telah hilang, urat-urat telah basah dan semoga pahala tetap didapatkan. Insya Allah. [HR. Abu Dawud dari Ibnu Umar]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar