Salam

Salam

Rabu, 18 Desember 2013

PUASA SUNNAH


Puasa Sunnah Menurut Tuntunan Rasulullah SAW
 
1. Puasa Enam Hari di Bulan Syawwal
 
عَنْ اَبِىْ اَيُّوْبَ اْلاَنْصَارِيِّ: اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: مَنْ صَامَ رَمَضَانَ  ثُمَّ  اَتْبَعَهُ  سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ، كَانَ  كَصِيَامِ  الدَّهْرِ.  مسلم
 
Dari Abu Ayyub Al-Anshari, ia berkata, bahwa Rasulullah SAW bersabda : "Barangsiapa puasa Ramadlan lantas ia iringi dengan puasa enam hari dari Syawwal, adalah (pahalanya) itu seperti puasa setahun". [HSR. Muslim]
 
قَالَ الـنَّبِيُّ ص: مَنْ صَامَ سِتَّةَ اَيـَّامٍ بَعْدَ اْلـفِطْرِ كَانَ تَمَامَ السَّنَّـةِ مَنْ جَاءَ بِاْلحَسَنَةِ فَـلَهُ عَشْرُ اَمْثَالِهَا. ابـن ماجه
 
Bersabda Nabi SAW : "Barangsiapa puasa enam hari sesudah Hari Raya 'Iedul Fithri, adalah (serupa) sempurna setahun (karena) barangsiapa mengerjakan kebaikan, maka ia mendapat pahala sepuluh kali ganda". [ HR. Ibnu Majah ]
Keterangan :
a.  Nabi SAW menggembirakan ummatnya agar suka berpuasa enam hari di bulan Syawwal, dengan menyatakan bahwa orang yang berpuasa, satu bulan dibulan Ramadlan kemudian enam hari di bulan Syawwal, maka pahalanya semisal dengan puasa setahun.
     Pengertiannya demikian :
     Puasa Ramadlan (yang biasanya 30 hari) pahalanya senilai berpuasa 300 hari, karena tiap-tiap satu hari mendapat pahala 10 kali lipat. Dan 6 hari di bulan Syawwal senilai dengan puasa 60 hari, sehingga semuanya berjumlah 360 hari atau sama dengan 1 tahun.
b. Enam hari dalam bulan Syawwal itu tidak mesti harus berturut-turut yang dimulai dari tanggal 2 (tepat sehabis hari raya) sebagaimana yang biasa dikerjakan oleh ummat Islam pada umumnya. Karena tidak ada penjelasan yang tegas dari agama atau keterangan yang sharih (terang) dan shahih dari agama. Dan kita tidak boleh membuat ketentuan sendiri dalam masalah 'ibadah. Jadi, boleh dan tetap dipandang sempurna oleh syara' bila kita mengerjakan berselang-seling maupun berturut-turut yang bukan dimulai tanggal 2 Syawwal (tepat sehabis hari raya); yang penting masih dalam bulan Syawwal. Kalaupun hendak mengerjakan tepat sehabis hari raya dengan berturut-turut, adalah tidak mengapa, asal tidak dengan keyakinan bahwa itulah cara yang paling sah yang dituntunkan oleh syara'.
 
2. Puasa Tasu'a dan'Asyuro
 
Tasu'a ialah hari yang ke-9 dari bulan Muharam, sedang 'Asyura adalah hari yang ke-10 dari bulan tersebut
 
قَالَ الـنَّبِيُّ ص: هذَا يَوْمُ عَشُرَاءَ وَ لَمْ يُكْـتَبْ عَلَـيْكُمْ صِيَامُهُ وَ اَنـَا صَائِمٌ. فَمَنْ شَاءَ فَلْـيَصُمْ وَ مَنْ شَاءَ فَلْـيُفْطِرْ. البخارى
 
Bersabda Nabi SAW : "Hari ini, hari 'Asyura tetapi tidak diwajibkan atas kamu puasa hari ini, sedang aku berpuasa. Oleh sebab itu, barangsiapa mau, bolehlah ia berpuasa dan baragsiapa tidak mau, bolehlah ia tidak berpuasa". [ HR. Bukhari ]
 
قَالَ الـنَّبِيُّ ص: لَـئِنْ بَـقِـيْتُ  اِلىَ قَابِـلٍ لاَصُوْمَنَّ  الـتَّاسِعَ. مسلم
 
Bersabda Nabi SAW : "Sesungguhnya kalau aku masih hidup sampai tahun depan, niscaya aku berpuasa hari ke-9 (bulan Muharam)". [ HR. Muslim ]
 
3. Puasa Sya'ban
 
قَالَتْ عَائِشَةُ: ... وَمَا رَأَيــْتُ رَسُوْلَ اللهِ ص اِسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ قَطُّ اِلاَّ رَمَضَانَ. وَمَا رَأَيــْتُهُ فِى شَهْرٍ اَكـْثَرَ مِنْهُ صِيَامًا فِى شَعْبًا. مسلم
 
Telah berkata 'Aisyah : "... dan tidak pernah saya melihat Rasulullah SAW berpuasa sebulan penuh melainkan di Ramadlan, dan tidak pernah saya lihat beliau memperbanyak puasa pada bulan lain seperti bulan Sya'ban". [ HSR. Muslim ]
 
Keterangan :
 
Puasa dalam bulan Sya'ban ini tidak ada ketentuan jumlah hari dan tanggal-tanggalnya, hanya yang biasa dilakukan oleh Rasulullah SAW adalah kurang dari satu bulan. Tegasnya tidak satu bulan penuh.
 
4. Puasa Senin dan Kamis
 
قَالَتْ عَائِشَةُ: اِنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص كَانَ يـَتَحَرَّى صِيَامَ اْلاِثْـنَيْنِ وَاْلخَمِيْسِ. الـنسائى
 
Telah berkata 'Aisyah : "Bahwasanya Nabi SAW biasa mementingkan puasa Senin dan Kamis". [ HR. An Nasai ]
 
5. Puasa Tiga Hari Pada Tiap Bulan (Qamariah)
 
قَالَ الـنَّبِيُّ ص: يَا اَبَا ذَرٍّ، اِذَا صُمْتَ مِنَ الشَّهْرِ ثَلاَثــَةَ اَيـَّامٍ فَصُمْ ثَلاَثَ عَشْرَةَ وَ اَرْبَعَ عَشْرَةَ وَخَمْسَ عَشْرَةَ. الترمذى
 
Bersabda Nabi SAW : "Hai Abu Dzar, kalau engkau mau puasa tiga hari dari satu bulan, maka puasalah pada hari yang ke-13, 14 dan 15". [ HR. Tirmidzi ]
 
6. Puasa Dengan Berselang Hari
 
قَالَ الـنَّبِيُّ ص: ... فَصُمْ يَوْمًا اَوْ اَفْطِرْ يَوْمًا فَذَالِكَ صِيَامُ دَاودَ. البخارى
 
Bersabda Nabi SAW : "... maka puasalah sehari dan tidak berpuasa sehari, yang demikian itu adalah puasa (Nabi) Dawud". [HR. Bukhari]
 
7. Puasa 'Arafah
 
عَنْ اَبِى قَـتَادَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: صَوْمُ  يَوْمِ عَرَفَةَ يـُكَفِّرُ سَنَتَيْنِ مَاضِيَةً وَ مُسْتَقْبَلَةً. الجماعة الا  البخرى و الترمذى
 
Dari Abu Qatadah berkata : Telah bersabda Rasulullah SAW : "Puasa pada hari Arafah (tanggal 9 Dzulhijjah) itu bisa menutupi dosa-dosa dua tahun, yaitu setahun yang lampau dan setahun yang akan datang". [ HR. Jama'ah kecuali Bukhari dan Tirmidzi ]
Puasa Arafah ini disyariatkan bagi orang-orang yang tidak sedang melaksanakan Hajji. Sedang bagi yang sedang berhajji di Padang Arafah, maka tidak diperkenankan melaksanakannya sebagaimana riwayat di bawah ini :
 
عَنْ اَبِى هُرَيــْرَةَ قَالَ: نَهَى رَسُوْلُ اللهِ ص عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ بِعَرَفَاتٍ. احمد وابـن ماجه
 
Dari Abu Hurairah, ia berkata : "Rasulullah SAW melarang puasa Arafah di padang Arafah". [ HR. Ahmad dan Ibnu Majah ]
 
Hari- hari yang Dilarang Berpuasa :
 
1. Dua hari raya : Yaitu Hari Raya 'Iedul Fithri dan 'Iedul Adha
 
قَالَ اَبُوْ سَعِيْدٍ: نَهَى رَسُوْلُ اللهِ ص عَنْ صَوْمِ يَوْمِ اْلـفِطْرِ وَ الـنَّحْرِ. البخارى
 
Telah berkata Abu Sa'id : "Rasulullah SAW telah melarang (orang) berpuasa pada hari raya 'Iedul Fithri dan hari raya Qurban ('Iedul Adha)". [ HR. Bukhari ]
 
2. Hari Tasyriq, yaitu : Hari yang ke-11, 12 dan13 dari bulan Hajji (Dzulhijjah)
 
قَالَ الـنَّبِيُّ ص: اَيــَّامُ الـتَّشْرِيـْقِ اَيــَّامُ اَكْلٍ وَ شُرْبٍ وَزَادَ ذِكْرِ اللهِ تَعَالىَ. مسلم
 
Bersabda Nabi SAW : "Hari Tasyriq ini adalah hari makan minum dan menyebut (mengingat) Allah". [ HSR. Muslim ]
 
3. Hanya Berpuasa di Hari Jum'at Saja
 
عَنْ اَبِى هُرَيــْرَةَ عَنِ الـنَّبِيِّ ص قَالَ: لاَ تَخُصُّوْا لَـيْلَةَ اْلجُمُعَةِ بِـقِيَامٍ مِنْ بَيْنِ اللَّـيَالىِ وَلاَ تَخُصُّوْا يَوْمَ اْلجُمُعَةِ بِصِيَامِ مِنْ بَـيْنِ اْلاَيـــَّامِ اِلاَّ  اَنْ يَكُوْنَ فىِ صَوْمٍ يَصُوْمُهُ اَحَدُكُمْ. مسلم
 
Dari Abu Hurairah, dari Nabi SAW beliau bersabda : "Janganlah kamu khususkan malam Jum'at dari malam yang lain untuk shalat dan janganlah kamu khususkan hari Jum'at dari hari yang lain untuk berpuasa, kecuali jika sebelum atau sesudahnya seseorang di antara kamu biasa berpuasa padanya". [ HR. Muslim ]
 
عَنْ اَبِى هُرَيــْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص لاَ يَصُمْ اَحَدُكُمْ يَوْمَ اْلجُمُعَةِ اِلاَّ  اَنْ يَصُوْمَ قَـبْلَهُ اَوْ بَـعْدَهُ. متفق عليه
 
Dari Abu Hurairah, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah SAW : "Janganlah seseorang dari kamu puasa di hari Jum'at, kecuali jika ia puasa sebelumnya atau sesudahnya". [ HR. Muslim ]
 
4. Puasa Terus-menerus
قَالَ الـنَّبِيُّ ص: لاَ صَامَ اْلاَبــَدَ،  مَرَّتَـيْنِ. البخارى
 
Bersabda Nabi SAW : "Tidak (dinamakan) berpuasa, orang yang puasa selama-lamanya -- ucapan Nabi tersebut diulang dua kali". [ HR. Bukhari ]
 
Boleh Berniat Puasa pada Pagi Hari Bagi Puasa Sunnat :
 
عَنْ عَائِشَةَ رض قَالَتْ: دَخَلَ عَلَيَّ الـنَّبِيُّ ص ذَاتَ يَوْمٍ فَقَالَ: هَلْ عِنْدَكُمْ شَيْئٌ؟ قُلْـنَا: لاَ. قَالَ: فَاِنــِّى اِذًا صَائِمٌ. ثُمَّ اَتــَانَا يَوْمًا اخَرَ فَقُـلْـنَا: اُهْدِيَ لَـنَا حَـيْسٌ، فَـقَالَ: اَرِيـْنِيْهِ. فَلَـقَدْ اَصْبَحْتُ صَائِمًا فَأَكَلَ. مسلم
 
Dari 'Aisyah RA, ia berkata : "Pada suatu hari Nabi SAW masuk ke rumah lalu bertanya : "Apakah kamu mempunyai sesuatu (makanan) ?" Kami menjawab : "Tidak ada". Maka beliau bersabda : "Bila demikian maka aku akan berpuasa". Dan pada hari yang lain beliau datang pula, maka kami berkata : "Ada orang yang menghadiahkan hais (makanan yang dibuat dari korma, samin dan susu kambing) kepada kita". Beliau bersabda : "Perlihatkanlah kepadaku, karena sesungguhnya aku berpagi dalam keadaan berpuasa. Kemudian beliau makan". [ HR. Muslim ]
 
Seorang Isteri, Dilarang Berpuasa Sunnah Tanpa Seidzin Suami :
 
عَنْ اَبِى هُرَيــْرَةَ، اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: لاَ يَحِلُّ لِلْمَرْأَةِ اَنْ تَصُوْمَ وَ زَوْجُهَا شَاهِدٌ اِلاَّ بِاِذْنِهِ. متفق عليه، و اللفظ للبخارى زاد ابو داود غير رمضان.
 
Dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah SAW telah bersabda : "Tidak halal seorang perempuan berpuasa padahal suaminya tidak bepergian melainkan seidzinnya". [Muttafaq 'Alaih, lafadh itu bagi Bukhari dan Abu Dawud menambah  "..... selain Ramadlan".
~ o O o ~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar